Powered by Blogger.

Thursday, 28 March 2013

PERANAN MASYARAKAT DALAM PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP

A. Pendahuluan
Negara kita tengah giatnya menjalankan pembangunan baik secara fisik maupun non fisik. Pembangunan berkiblat pada kesejahtetraan dan kemajuan bangsa dan negara. Walau demikian tidak dapat dipungkiri bahwa dalam kenyataannya, banyak ditemukan hal-hal yang sangat kontras dengan tujuan mulia tersebut.
Dalam berbagai kesempatan para pemimpin bangsa kita selalu mendengungkan “pembangunan tanpa merusak”, artinya dalam pembangunan seyogyanya tidak hanya sekedar membuat, atau menciptakan segala sesuatu, berdasarkan keinginan namun harus lebih daripada itu yaitu berdasarkan kebutuhan. Oleh karena itu dalam pembangunan harus ada perencanaan yang matang, termasuk di dalamnya adalah dampaknya terhadap ekosistem yang ada di area pembangunan dan daerah sekitarnya, baik dalam jangka waktu pendek maupun jangka waktu panjang.
Salah satu contoh yang menjadi keprihatinan semua kalangan adalah maraknya pembangunan mall-mall, super market, perumahan-perumahan yang terjadi di kota-kota besar. Para insvestor berlomba-lomba membeli lahan-lahan pertanian ataupun hutan-hutan untuk membangun berbagai fasilitas yang dapat menambah “tebalnya” kantong para pemilik uang dengan dalih demi pembangunan. Tidak jarang praktek-praktek pembebasan tanah ini merupakan suatu “awal” dari penderitaan masyarakat miskin yang “nota bene” pemilik tanah yang sah.
Contoh di atas hanyalah salah satu ketimpangan yang pada hakekatnya akan mengganggu ekosistem lingkungan yang ada. Masyarakat yang tergusur, karena posisinya yang “kalah” akhirnya memilih untuk menempati bedeng-bedeng di bantaran sungai. Mereka tinggal berdesak-desakkan di dalam gubuk-gubuk liar hanya sekedar untuk mempertahankan hidup. Keberadaan gubuk-gubuk liar tersebut lambat laun mengganggu ekosistem sungai. Penduduk membuang sampah ke dalam sungai, limbah rumah tangga maupun limbah home industry memenuhi sungai, sehingga sungai yang semula bersih dan menjadi tempat tinggal ikan-ikan yang dapat dikonsumsi, berubah menjadi kotor berbau, karena tumpukan sampah yang menggunung dan banyak spesies ikan yang punah.
Hal di atas merupakan akibat yang menimpa masyarakat miskin, dan akibat yang muncul bagi para “the have” pun tak kalah dahsyatnya. Di atas bekas lahan pertanian penduduk, kini berdiri gedung-gedung bertingkat pencakar langit, kota tidak memiliki ruang resapan air, karena semua tanah di aspal dan dibeton. Akibatnya bahaya banjir menjadi momok yang mengganggu penghuninya sepanjang tahun bahkan sepanjang kehidupan mereka bila tetap bermukim di tempat tersebut.
Kenyataan yang ada menunjukkan suatu gejala yang kontradiksi dan memilukan. Membangun berarti mengadakan suatu perubahan yang terencana sehingga membuat lebih baik dari sebelumnya. Bila dalam kenyataan justru potret buram yang ada seperti contoh di atas maka yang dapat dilakukan adalah hendaknya “pembangunan ditinjau kembali”.
Efek global warning yang akhir-akhir ini melanda dunia, misalnya mencairnya es abadi di kutub utara, peningkatan suhu udara di berbagai belahan dunia, kebakaran hutan di berbagai negara, banjir yang melanda wilayah di berbagai negara, serta bencana lainnya, merupakan suatu peringatan bahwa kita harus membuka mata dan menghentikan eksploitasi lingkungan serta sumber daya alam yang berlebihan.
B. PENTINGNYA KESADARAN AKAN RELASI FUNGSIONAL ANTARA MANUSIA DENGAN ALAM
Suatu ekosistem yang ada dalam habitat tertentu, memiliki hubungan yang sangat erat antara satu dengan yang lainnya. Disitulah terjadi siklus hidup dan rantai makanan. Kita semua tahu bahwa antara mahkluk hidup dan zat pengurai pun memiliki sifat ketergantungan antara satu dengan lainnya. Dan siklus ini tidak dapat diputus karena bila hal tersebut terjadi maka akan mengubah sistem yang ada dalam ekosistem tersebut. Contoh yang nyata adalah bila sampah-sampah yang mengandung zat kimia dibuang ke dalam sungai maka akan mematikan zat-zat pengurai dalam sungai. Hal ini menyebabkan proses penguraian tidak terjadi dan akibat lanjutnya adalah sampah semakin hari semakin menumpuk dan menimbulkan penyakit dan banjir.
Contoh di atas menunjukkan bahwa dalam kehidupan, manusia membutuhkan suatu tata lingkungan hidup yang stabil dan mapan. Dalam asas ekologi, terdapat beberapa hal yang perlu diketahui :
1. Asas saling tergantung (principle of independence), pada asas ini menunjukkan bahwa antara manusia dengan lingukungan (flora dan fauna) memiliki ketergantungan antara satu dengan lainnya.
2. Asas perubahan (principle of change), bahwa di dunia ini tidak ada yang tetap. Artinya selalu terjadi perubahan dalam kehidupan di dunia ini. Dan manusia dalam kehidupannya selalu beradaptasi dengan lingkungan hidupnya.
3. Asas evolusi (principle of evolution) bahwa manusia akan selalu mengalami evolusi (perubahan secara lambat dan pasti).
Ketiga asas di atas memberikan input bagi kita untuk secara bijaksana mengelola lingkungan alam. Upapa pembangunan yang dilaksanakan hendaknya selalu memperhatikan kelestarian sumber daya alam yang ada.
Indonesia mendapat gelar sebagai salah satu negara “paru-paru dunia”. Hal tersebut terjadi karena kekayaan alam yang berlimpah, hutan yang maha luas, walau semakin hari semakin tinggal kenangan. Semasa di bangku Sekolah Dasar, penulis terkagum-kagum ketika mendengarkan cerita Pak Guru tentang betapa luasnya hutan rimba Kalimantan. Pohon-pohonnya tinggi menjulang dengan diameter yang sungguh luar biasa lebarnya. Cerita ini tetap tersimpan dalam hati hingga dewasa. Cerita masa kecil yang begitu menawan, ternyata hanya menjadi sebuah dongeng yang indah.
Ketika penulis memiliki kesempatan untuk mengunjungi pulau Borneo, kenyataan sangat bertentangan dengan khayalan masa kecil tersebut. Waktu menunjukkan pukul 05.00 Wita, KM Sirimau memasuki Pelabuhan Batu Licin, Kalimantan, penulis hanya terkesima memandang tonggak-tonggak kayu yang berdiri membisu di tepi pantai bak patung-patung yang belum selesai dibangun pemahatnya. Pertemuan antara laut dan sungai pun terlihat begitu kontras, laut yang begitu jernih keperakan ditimpa fajar, membentuk garis berbuih dengan tepi berwarna coklat berasal dari air sungai yang berlumpur. Sungguh mengenaskan, pemandangan yang terpatri di depan mata.
Ternyata hutan yang rimbun dan luas tersebut telah habis termakan tangan-tangan serakah. Dalih pembangunan telah memakan korban, pohon-pohon yang ditebang menjadi sumber duit bagi mereka yang memiliki “kekuasaan dan uang”, tapi sumber petaka bagi masyarakat sekitar yang hanya bertindak sebagai penonton tidak berdaya. Masyarakat menikmati bahaya banjir dan akibat buruk lainnya, sementara “sang pemilik uang” tersenyum lebar menikmati hasil jarahannya. Sungguh ironis.
Bila setiap manusia memiliki pengertian yang bijak tentang ketiga asas di atas maka kisah pilu di pulau Borneo tersebut tidak akan pernah terjadi. Sumber daya alam perlu dipertahankan kelestariannya demi terciptanya stabilitas lingkungan dan alam. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga adanya keseimbangan kehidupan bagi generasi-generasi selanjutnya.
C. PERANAN MASYARAKAT
Pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan pembalakan liar, dan pembatasan penggunaan sumber daya alam. Semuanya berkiblat pada pelestarian lingkungan dan pencegahan bahaya yang ditimbulkan dari perbuatan yang mengganggu ekosistem lingkungan dan keseimbangan alam.
Dalam pelaksanaannya, pemerintah bekerjasama dengan instansi-instansi terkait dan semua stakeholder yang peduli dengan masalah lingkungan. Upaya-upaya pembersihan sungai, pantai, penanaman kembali pohon-pohon di tepi pantai, gerakan menanam seribu pohon, usaha mendaur ulang sampah, pencegahan pembalakan liar, dan upaya lainnya dilakukan secara berkesinambungan.
Walau demikian, peranan masyarakat sangat menunjang semua upaya pemerintah tersebut. Masyarakat yang bersentuhan secara langsung dengan lingkungan memiliki peran yang besar dalam pelestarian alam. Untuk itu maka masyarakat pun perlu mendapat pengetahuan dan pemahaman yang sama tentang pentingnya menjaga kelestarian alam.
Beberapa langkah konkret yang dapat dilakukan oleh dinas terkait bagi masyarakat agar lebih dapat berperan dalam pelestarian lingkungan, antara lain :
1. Mengadakan penyuluhan tentang pentingnya menjaga lingkungan dan pelestarian alam di tingkat kecamatan hingga RT.
2. Memberikan pelatihan tentang cara-cara mendaur ulang sampah bagi masyarakat.
3. Memberikan pelatihan-pelatihan tentang mendaur ulang barang bekas menjadi barang-barang kreatif dan berguna, untuk mengurangi sampah sekaligus menambah penghasilan masyarakat.
4. Memberikan pinjaman lunak bagi Usaha Kecil dan Menengah dalam rangka memotivasi masyarakat untuk mengembangkan usaha secara lebih berkembang dan mandiri. Hal ini dapat mengurangi angka pengangguran, dan menanggulangi terjadinya tindakan kriminalitas akibat dari kurangnya lapangan pekerjaan dan ketrampilan.
5. Memberikan reward (hadiah) atau perhatian khusus dengan memberikan tunjangan secara finansial bagi masyarakat yang berkecimpung di bidang pelestarian lingkungan sehingga mereka semakin termotivasi dalam usaha yang telah dijalankannya.
6. Memberikan punishment (hukuman) yang sesuai berdasarkan peraturan perundang-undangan bagi masyarakat yang berupaya merusak lingkungan.
Beberapa langkah tersebut di atas, hanyalah beberapa alternatif yang dapat digunakan dalam upaya pelestarian lingkungan yang berkesinambungan. Semua upaya tersebut, membutuhkan komitmen yang serius oleh semua pihak demi terciptanya keseimbangan lingkungan dan terpeliharanya ekosistem yang stabil.
Dan pada akhirnya dapat menanggulangi dampak buruk yang dapat terjadi sehingga terciptalah kehidupan yang damai, aman, dan sejahtera akibat dari suatu harmoni yang selaras antara manusia dan lingkungan hidupnya.

Sumber: http://kbbentara.blogspot.com/2011/01/peranan-masyarakat-dalam-pelestarian.html

0 komentar:

Post a Comment

 

Followers

Fish